Assalamu'alaikum Warahmatulahi Wabarakatu.
Bismillahirrahmanirrahim
Allahummashalli 'alaa Muhammad wa'alaa aalihi wa ashabihi wadlurriyatihi
washallim.
“Alhamdulillahi nasta’iinuhu wanastagh firuhu wana’uudzubillaahi min
syuruuri anfusinaa waminsayyi ati a’ maalinaa man yahdihillahu falaa
mudhilla lahu waman yudhlil falaa haadiya lahu, asyhadu anlaa ilaha
illallaahu wah dahulaa syariikalahu wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhuu warasuuluhu la nabiya ba’da.”
Hidup Di Bawah Naungan Al-Quran
“Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang
lebih urus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang
mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar” (Surah
Al Israa 9)
Hidup dalam naungan Al-Qur’an bererti selalu
berinteraksi dengan Al-Qur’an baik secara tilawah (membaca), tadabbur
(memahami), hifzh (menghafalkan), tanfiidzh (mengamalkan), ta’liim
(mengajarkan) dan tahkiim (menjadikannya sebagai pedoman dan rujukan
hukum).
Rasulullah saw . bersabda: “Sebaik-baiknya kamu orang yang mempelajari Al-Qur’an dan yang mengajarkannya”
Orang yang mempelajari Al-Qur’an adalah orang yang masuk pada tahapan
awal dari interaksi terhadap Al-Qur’an dan orang yang mengajarkan
Al-Qur’an adalah orang yang sudah sampai tahapan akhir daripada
interaksi terhadap Al-Qur’an, Namun secara umum orang-orang yang berjiwa
Robbani adalah orang yang senantiasa mengajarkan Al-Qur’an dan pada
saat yang sama orang belajar Al-Qur’an dan semuanya masuk orang yang
terbaik dari umat Islam.
At-Tilawah (Membaca Al-Qur’an)
“Orang-orang yang telah kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka
membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya.
dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, Maka mereka Itulah orang-orang
yang rugi” (Surah Al-Baqarah 121).
Salah satu interaksi
terhadap Al-Qur’an yang harus diperbanyak adalah tilawah Al-Qur’an.
Salafu sholih sangat serius dalam masalah tilawah. Utsman bin ‘Affan
mengkhatamkan setiap hari Al-Qur’an di bulan Ramadhan. Abdullah bin Amru
bin Al-Ash ketika diperintahkan membaca Al-Qur’an sebulan khatam,
beliau masih menawar bahwa dirinya masih mampu untuk lebih cepat dari
itu. Setelah terjadi tawar-menawar, maka Rasulullah saw. membolehkan
membaca Al-Qur’an setiap tiga hari khatam. Sementara imam As-Syafi’i
mengkhatamkan 60 kali dalam bulan Ramadhan diluar waktu sholat. Sebagian
ada yang setiap minggu khatam dan ada yang sepuluh hari khatam.
Demikianlah tilawah Shalafu sholih.
Orang-orang beriman
menjadikan Al-Qur’an sebagai buku bacaan hariannya dan tidak pernah
bosan dan kenyang dengan Al-Qur’an. Sebagaimana diungkapkan oleh Utsman
bin ‘Affan ra,“Kalau hati kita bersih, maka kita tidak akan pernah
kenyang dengan Al-Qur’an”. Kerana dengan senantiasa membaca Al-Qur’an,
akan mendapatkan banyak kebaikan.
Rasulullah saw. bersabda,
“Al-Qur’an ini adalah hidangan Allah, maka terimalah hidangan itu sekuat
kemampuan kalian. Al-Qur’an ini adalah tali Allah, cahaya yang terang,
ubat yang bermanfaat, terpeliharalah orang yang berpegang teguh
dengannya, keselamatan bagi yang mengikutinya. Jika akan menyimpang,
maka diluruskan, tidak terputus keajaibannya, tidak lapuk keranabanyak
diulang. Bacalah keranaAllah akan memberikan pahala bacaan kalian setiap
huruf sepuluh kebaikan. Saya tidak mengatakan alif lam mim satu huruf,
tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf”. (HR
Al-Hakim)
At-Tadabbur (Memahami Al-Qur’an)
Allah
Ta’ala berfirman, “Ini adalah sebuah Kitab yang kami turunkan kepadamu
penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatNya dan supaya
mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran” (Surah Shaad 29).
Tadabbur Al-Qur’an adalah meneliti lafazh Al-Qur’an untuk sampai pada
makna Al-Qur’an. Intinya bahawa tadabbur iaitu memahami Al-Qur’an,
mendalami, memikirkan dan memperhatikan agar dapat diamalkan. Inilah
tujuan inti dari diturunkan Al-Qur’an, iaitu untuk difahami isinya
kemudian diamalkan. Sebab jika orang membaca sesuatu dan tidak memahami
maknanya maka tujuan inti dari apa yang dibaca tidak sampai. Orang yang
berilmu dan memiliki peradaban adalah orang yang memahami apa yang
dibaca.
Berkata Ibnu Taimiyah, “Tradisi yang terjadi adalah
menolak, jika suatu kaum membaca kitab pada disiplin ilmu tertentu,
seperti kedoktoran atau matematik kemudian tidak memahaminya. Bagaimana
dengan kalam Allah Ta’ala yang merupakan kunci penjagaan, keselamatan,
kebahagiaan dan pedoman pada agama dan dunia mereka ?”
Al-Qur’an adalah mu’jizat Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad
saw. dan manusia dapat menikmati mu’jizat tersebut. Seluruh isinya
berupa kebenaran, kebaikan, keindahan, ilmu pengetahuan dan mengantarkan
manusia pada kebahagiaan. Orang yang hidup dalam naungan Al-Qur’an
mereka akan mendapatkan keberkahan. Keberkahan umur, keberkahan harta
dan keberkahan sarana lainnya. Sebaliknya manusia yang berpaling dari
Al-Qur’an, mereka akan mendapatkan kehidupan yang paling sempit,
sengsara dan menderita di dunia dan akhirat.
“Dan barangsiapa
berpaling dari peringatan-Ku (Al-Qur’an), Maka Sesungguhnya baginya
penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat
dalam keadaan buta”. Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, Mengapa Engkau
menghimpunkan Aku dalam keadaan buta, padahal Aku dahulunya adalah
seorang yang melihat?” Allah berfirman: “Demikianlah, Telah datang
kepadamu ayat-ayat kami, Maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada
hari Ini kamupun dilupakan” (Surah Thahaa 124-126).
Sangat
disayangkan jika mu’jizat terakhir yang membawa keselamatan dan
kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat tidak dapat difahami dan
dini’mati oleh majoriti manusia. Tetapi inilah realitas yang terjadi,
majoriti manusia tidak beriman pada Al-Qur’an dan majoriti umat muslim
tidak mengetahui isinya.
Al-Hifzh wa al-Muhafazhah (Menghafal dan menjaga Al-Qur’an)
“Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada
orang-orang yang diberi ilmu. dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat
kami kecuali orang-orang yang zalim” (Surah Al-ankabuut 29).
Maksudnya, bahwa ayat-ayat Al Quran itu terpelihara dalam dada dengan
dihafal oleh banyak kaum muslimin turun temurun dan dipahami oleh
mereka, sehingga tidak ada seorangpun yang dapat mengubahnya. Dan inilah
satu bentuk kemudahan yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya. Bahwa
Al-Qur’an mudah dibaca, mudah difahami, mudah dihafalkan dan mudah
diamalkan. Surah Al-Qomar menyebutkan empat kali, bahwa Allah telah
berjanji untuk memudahkan al-Qur’an untuk dijadikan pelajaran. “Dan
Sesungguhnya Telah kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, Maka Adakah
orang yang mengambil pelajaran?” (Surah Al Qomar, 17,22,32, 40). Para
ulama tafsir, diantaranya Al-Qurthubi, As-Suyuti dan lainnya, bahwa
Allah telah memudah Al-Qur’an untuk dihafalkan.
Banyak
orang-orang beriman yang sudah putus asa dalam menghafalkan Al-Qur’an,
seolah tidak mampu lagi menambah hafalannya, yang ada malah berkurang.
Apalagi jika umur sudah mulai menginjak 40 tahun. Masalah ini
menunjukkan kelemahan iman dan semangat dalam menghafalkan Al-Qur’an.
Bahkan ada seorang da’i yang mengatakan bahwa dalam Islam semuanya mudah
kecuali menghafal Al-Qur’an. Kekadaan seperti ini tentu sungguh sangat
memperihatinkan. Padahal jika kita melihat keislaman para sahabat,
majoriti mereka masuk Islam sudah dewasa, sebagiannya sudah melewati
usia 40 tahun, tetapi mereka masih terus bersemangat untuk menghafal
Al-Qur’an.
Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya orang yang
dalam dadanya tidak ada (hafalan) dari al-Qur’an, maka seperti rumah
rusak (kosong)” (HR Ahmad, at-Tirmidzi dan Al-Hakim).
Rumah
rusak atau kosong, berarti mudah dimasuki mahluk lain, seperti syetan
atau jin yang senantiasa mengganggu manusia. Dan memang kita mendapati,
bahwa orang yang suka diganggu syaitan atau jin adalah orang yang
hatinya kosong, iaitu kosong dari keimanan dan kosong dari Al-Qur’an.
Rasulullah saw. banyak memberikan keistimewaan bagi orang-orang yang hafal Al-Qur’an, diantaranya,
“Orang yang membaca Al-Qur’an dan dia mahir, bersama malaikat yang mulai dan baik” (Muttafaqun ‘alaihi).
“Tidak boleh hasad kecuali pada dua, seorang yang diberikan Al-Qur’an
dan diamalkan siang malam. Dan seorang yang diberi harta, dia
menginfakkannya siang malam” (Muttafaqun ‘alaihi).
“Ahlul Qur’an adalah ahli Allah dan yang diistimewakan-Nya” (HR Ahmad dan Ibnu Majah).
“Yang memimpin (imam) suatu kaum adalah yang paling menguasai Al-Qur’an” (HR Muslim).
Pemimpin disini baik dalam shalat dan tentu saja diluar shalat.
keranaRasulullah saw. ketika memberi tugas pada para sahabat, yang
diangkat jadi pemimpin adalah yang paling menguasai Al-Qur’an atau yang
paling faqih terhadap agama.
At-Tanfidz wa al-‘Amal bihi (Mengamalkan Al-Qur’an)
Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, Maka Allah dan rasul-Nya serta
orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan
dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang
nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang Telah kamu kerjakan”
(Surah At-Taubah 105)
Langkah interaksi terhadap Al-Qur’an
berikutnya adalah mengamalkannya. Mengamalkan Al-Qur’an berarti
mengamalkan ajaran Islam atau beramal shalih. Saidina Ali menjelaskan
sifat-sifat orang yang bertaqwa, iaitu orang yang beramal sesuai dengan
petunjuk Al Qur’an (al-‘amalu bit tanziil). Inilah interaksi yang harus
dilakukan oleh setiap orang beriman, menjalankan yang diperintahkan dan
meninggalkan yang diharamkan. Mengamalkan Al-Qur’an harus sampai pada
tingkat bahwa Al-Qur’an menjadi keperibadian atau akhlaknya. Inilah yang
terjadi pada diri Rasulullah saw., sebagaimana diceritakan ‘Aisyah,
“Akhlak Rasul adalah Al-Qur’an” (HR Ahmad, Abu Dawud dan An-Nasa’i).
Begitu juga para sahabat disebut dengan ‘Generasi Al-Qur’an yang unik’.
Diantara bentuk mengamalkan Al-Qur’an adalah mengikuti sunnah Rasul
saw. kerana kita melihat banyak orang yang mengklaim mengikuti Al-Qur’an
tetapi tidak mengikuti sunnah bahkan yang menafikan sunnah.
Firman Allah swt.
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang
dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya” (Surah Al-Hasyr 7).
Sesuatu yang harus menjadi keprihatinan kita orang-orang beriman adalah
bahwa banyak umat Islam yang meninggalkan Al-Qur’an. Hal ini juga yang
menjadi keprihatinan Rasulullah saw. Bahkan keprihatinan ini diabadikan
dalam Al-Qur’an, “Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, Sesungguhnya kaumku
menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak dipandang serius” (Surah
Al-Furqan 30). Meninggalkan Al-Qur’an ini disebabkan oleh banyak hal,
salah satunya kerana begitu gencarnya propaganda penyesatan yang
dilakukan oleh musuh-musuh Islam. Begitu juga upaya yang sistematik agar
umat Islam jauh dari Al-Qur’an,
“ Dan orang-orang yang kafir
berkata: “Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al Quran
Ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan
mereka” (Surah Al-Fhushilat 41).
Berbagai macam dakwah
kebatilan digalakan, berbagai macam hiburan yang melalaikan disemarakkan
sehingga banyak umat Islam yang meninggalkan Al-Qur’an. Meninggalkan
dari membaca Al-Qur’an, meninggalkan dari memahami Al-Qur’an,
meninggalkan dari menghafalkan Al-Qur’an, meninggalkan dari mengamalkan
Al-Qur’an dan meninggalkan dari segala macam yang terkait dengan
Al-Qur’an. TV mempunyai peranan yang sangat besar dalam membuat umat
Islam meninggalkan Al-Qur’an.
At-Ta’lim wa ad-Da’wah wa al-Jihad (Mengajarkan dan menda’wahkan Al-Qur’an )
“Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah
terhadap mereka dengan Al Quran dengan jihad yang besar” (Surah
Al-Furqaan 52).
Melihat fenomena bahwa umat meninggalkan
Al-Qur’an, maka harus ada upaya berkesinambungan bagi para da’i, iaitu
mengajarkan Al-Qur’an, menda’wahkan dan berjihad dengannya. Inilah
bentuk interaksi terakhir orang-orang beriman dengan Al-Qur’an. Inilah
sejatinya yang disebut dengan hidup dalam naungan Al-Qur’an. Ta’lim,
da’wah dan jihad yang terus-menerus sampai Allah memberikan kemenangan
atau mati syahid dijalan perjuangan ini. Inilah kehidupan yang telah
dilalui oleh Rasulullah saw. bersama dengan keluarga dan para
sahabatnya. Diteruskan oleh generasi salafu shalih berikutnya,
perjuangan yang tidak kenal henti.
As-Syahid Sayyid Quttub
menceritakan betapa indahnya hidup dalam naungan Al-Qur’an. Beliau
berkata dalam muqaddimah Zilalnya, “Hidup dalam naungan Al-Qur’an adalah
ni’mat. Ni’mat yang hanya diketahui oleh siapa yang telah merasakannya.
Ni’mat yang akan mengangkat umur, memberkahi dan menyucikannya”.
Wallahu'alam
Wa-Baarakallaahu Fiikum jamii'an
Wasalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatu
Bismillahirrahmanirrahim...
Allahumma shallii alaa Muhammad Nabiyyil ummi wa barik 'alaihi wasallim
Allahumma shallii 'alaa Muhammad Wa umma wabarik 'alaihi wasallim
Allahumma shallii 'alaa Muhammad Biadadi man shalla' alaihi wasallim
Allahumma shallii 'alaa Muhammad Biadadi man lam an yushalli 'alaihi wasallim
Allahumma shallii 'alaa Muhammad kama tuhibbu an yushalli 'alaihi wassallim
Allahumma shallii 'alaa Muhammad kama amarta an yushalli 'alaihi wasallim
Allahumma shallii 'alaa Muhammad kama yasbaqhis shalawatu 'alaihi wasallim.
Allahumma shalli 'alaa Muhammadin wa'ala ali Muhammadin kamasollaita'ala Ibrahim.
Wabarik'ala Muhammadin wa'ala ali Muhammadin kamabarakta'ala Ibrahima fil'alamin.
innaka hamidunmajid
amiin Ya Karim
amiin Ya Wahhab..amiin Ya "Alimun